Politik Uang dalam Pilurdes Timbulharjo

politik uang

Pendaftaran calon lurah Desa Timbulharjo secara resmi baru dibuka pada 1 Maret 2013. Namun jauh sebelum itu beberapa bakal calon lurah telah melakukan upaya penggalangan dukungan. Banyak cara dilakukan. Mulai dari memanfaatkan pengaruh tokoh masyarakat hingga iming-iming barang dan uang.

Informasi yang berhasil dihimpun Angkringan, sebagian bakal calon lurah melalui tim suksesnya telah membagikan uang dan barang di sebagian wilayah Timbulharjo. Tujuannya, menukar barang dan uang tersebut dengan dukungan suara dari warga. Tim sukses menjalankan peran penting dalam proses “jual-beli” ini.

Biasanya mereka mulai meminta tanda tangan warga sekitar sebagai bukti dukungan kepada sang calon. Selanjutnya, daftar tanda tangan itu diserahkan kepada calon untuk segera mencairkan uang atau barang. Jenis barang yang diberikan cukup beragam. Dari kain batik,kursi, tenda, hingga bahan bangunan. Kain batik telah beredar di Kampung Klayu dan Kowen II. Kain batik di Klayu didistribusikan melalui pengurus dasa wisma. Sementara tenda telah sampai ke Kampung Glondong, Sorogenen, dan Bangi Kulon. Jatah tenda untuk sebagian kampung lain masih dalam proses pemesanan. “Dipesan atas nama warga, tapi dibayar oleh calon lurah”, ujar seorang warga Sorogen.

Kampung Sanggrahan, Jomblang, Tembi, dan Ngentak Kidul juga telah menerima jatah kursi dari salah satu calon lurah. Sedangkan Mriyan, Dadapan Lor, dah Paten menerima jatah uang. Sebagian kampung lain menerima jatah bahan bangunan berupa semen untuk pengerasan jalan.

Untuk memuluskan politik uang ini, tim sukses maupun calon lurah menggunakan banyak cara, termasuk memanfaatkan kedok agama. Bahkan ada pemuka agama (kaum rois) di salah satu dusun yang menggunakan istilah sodaqoh politik untuk menyamarkan jual beli suara ini.

Apakah cara ini efektif untuk mendulang suara? Seorang warga Kowen berujar, “Saya diminta tanda tangan dukungan, ya saya dukung. Daripada ribut dengan tetangga. Tapi mendukung kan bukan berarti mencoblos. Urusan mencoblos, hanya saya dan tuhan yang tahu”. Jika sebagian besar warga bersikap seperti ini, jurus politik uang akan gagal total.